04 April 2017

T.U.L.I.S

Kebelakangan ini saya sering berfikir tentang bagaimana untuk terus menulis. Menjadikan menulis sebagai salah satu kewajipan yang perlu saya tunaikan setiap hari adalah suatu yang mustahil lagi. Untuk berkata jujur, tidak ada satu pun puisi yang saya tulis sepanjang melalui tahun 2017 ini. Sekadar ayat-ayat pendek yang mungkin dibilang orang puisi-puisi hipster. Ya, sekadar puisi hipster kononnya.

Sebelum ini saya tidak pernah membataskan pemikiran saya tentang kepanjangan-kependekkan sesebuah puisi. Ketelusan bahasanya mahupun kemewahan nilai sasteranya. Puisi pada saya sama sahaja selagi ia melalui proses menyampaikan sesuatu yang dirasa dari benak hati, pada pandangan saya. (boleh jadi puisi juga dari olahan fakta yang berada di sekeliling). Saya mempercayai ini,
"Menulislah pada saat awal dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan itu dengan fikiran. Kunci pertama dalam menulis bukan dengan berfikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan." -  William Forrester
Malangnya kebelakangan ini, tulisan saya menjadi paranoid terhadap dirinya sendiri. Hati saya sering mengecil. Membungkam. Saya lebih suka membaca hati orang lain (baca: tulisan orang lain). Menulis puisi bukan suatu hal yang menyenangkan. Mungkin ada saatnya hati kita perlu berehat. Suatu hari nanti ia pasti akan membiak kembali. Bercambah dan bertambah.