22 March 2017

T.E.M.U

Tak siapa mampu meneka takdir
Tak siapa tahu apa ada di akhir
Tubuh dan jiwa menyatu
Cinta dan sayang menyeru
Matahari mencipta mimpi
Bulan mengimbaskan memori
Aku menemukanmu

Tak siapa mampu meneka takdir
Tak siapa tahu apa ada di akhir
Setianya bidadari 
Walau berteman luka sepi
Awan menghitamkan pelangi
Rusuk akan terus menanti
Aku menemukanmu

Tak siapa mampu meneka takdir
Tak siapa tahu apa ada di akhir
Lunturku masih berwarna
Jatuhku terus berdiri
Tangisku tetap tersenyum
Kurangku kau melengkapi
Aku menemukanmu
      (Aku Menemukanmu, 2016)        


Menulis lagu puisi adalah sesuatu yang jarang saya lakukan. Teramat jarang. Jadi, jika dipinjamkan ilham dari Tuhan, saya akan melakukannya bersungguh-sungguh. Aku Menemukanmu ditulis sekitar tahun 2016 ketika saya menuntut di universiti dan sedang menyiapkan anak sulung saya, Qalb.

"Kenapa tak mahu orang cuba dengar lagu puisi kau?" Tanya adik.

Diam saya memberikan jawapan saya belum bersedia. Saya belum bisa berdiri utuh atau duduk kukuh untuk menyanyikan lagu puisi sendiri. Jujur, Aku Menemukanmu adalah buat seseorang yang bakal saya temui suatu hari nanti. Menemukannya adalah istimewa yang mega.

Percayalah, ada ketika kita perlu mencintai masa dan ruang terlebih dahulu. Masa saya akan sampai. Ruang saya akan terbuka. Saat itu, saya menemukan waktu saya (dia).