04 June 2017

R.E.V.I.V.A.L

Bawa kuhilang dari ingatan
Hari ini sehingga esok
Tak pernah daku rasa begini
Seperti mati hidup kembali



Lelaki akan datang,
Datanglah dan jenguklah ke mari
Ajarkan suara hati yang bisu menyanyi kembali.



Malam semalam gundah gulana
Hari ini hari mulia

14 May 2017

S.E.L.U.R.U.H

Selamat memuja
Hari-hari tuamu
Yang pernah kau korbankan sebagai ibu yang terbaik

Menjadi ibu
Adalah menjadi seluruh anak-anakmu

Selamat Hari Ibu, Mama.

12 May 2017

P.U.L.A.N.G

Hidup;
Hanya
Membuatkan aku mengingatimu lebih
Daripada aku mengingati
                                
                                                                                                            diriku, sendiri.



04 April 2017

T.U.L.I.S

Kebelakangan ini saya sering berfikir tentang bagaimana untuk terus menulis. Menjadikan menulis sebagai salah satu kewajipan yang perlu saya tunaikan setiap hari adalah suatu yang mustahil lagi. Untuk berkata jujur, tidak ada satu pun puisi yang saya tulis sepanjang melalui tahun 2017 ini. Sekadar ayat-ayat pendek yang mungkin dibilang orang puisi-puisi hipster. Ya, sekadar puisi hipster kononnya.

Sebelum ini saya tidak pernah membataskan pemikiran saya tentang kepanjangan-kependekkan sesebuah puisi. Ketelusan bahasanya mahupun kemewahan nilai sasteranya. Puisi pada saya sama sahaja selagi ia melalui proses menyampaikan sesuatu yang dirasa dari benak hati, pada pandangan saya. (boleh jadi puisi juga dari olahan fakta yang berada di sekeliling). Saya mempercayai ini,
"Menulislah pada saat awal dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan itu dengan fikiran. Kunci pertama dalam menulis bukan dengan berfikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan." -  William Forrester
Malangnya kebelakangan ini, tulisan saya menjadi paranoid terhadap dirinya sendiri. Hati saya sering mengecil. Membungkam. Saya lebih suka membaca hati orang lain (baca: tulisan orang lain). Menulis puisi bukan suatu hal yang menyenangkan. Mungkin ada saatnya hati kita perlu berehat. Suatu hari nanti ia pasti akan membiak kembali. Bercambah dan bertambah. 



22 March 2017

T.E.M.U

Tak siapa mampu meneka takdir
Tak siapa tahu apa ada di akhir
Tubuh dan jiwa menyatu
Cinta dan sayang menyeru
Matahari mencipta mimpi
Bulan mengimbaskan memori
Aku menemukanmu

Tak siapa mampu meneka takdir
Tak siapa tahu apa ada di akhir
Setianya bidadari 
Walau berteman luka sepi
Awan menghitamkan pelangi
Rusuk akan terus menanti
Aku menemukanmu

Tak siapa mampu meneka takdir
Tak siapa tahu apa ada di akhir
Lunturku masih berwarna
Jatuhku terus berdiri
Tangisku tetap tersenyum
Kurangku kau melengkapi
Aku menemukanmu
      (Aku Menemukanmu, 2016)        


Menulis lagu puisi adalah sesuatu yang jarang saya lakukan. Teramat jarang. Jadi, jika dipinjamkan ilham dari Tuhan, saya akan melakukannya bersungguh-sungguh. Aku Menemukanmu ditulis sekitar tahun 2016 ketika saya menuntut di universiti dan sedang menyiapkan anak sulung saya, Qalb.

"Kenapa tak mahu orang cuba dengar lagu puisi kau?" Tanya adik.

Diam saya memberikan jawapan saya belum bersedia. Saya belum bisa berdiri utuh atau duduk kukuh untuk menyanyikan lagu puisi sendiri. Jujur, Aku Menemukanmu adalah buat seseorang yang bakal saya temui suatu hari nanti. Menemukannya adalah istimewa yang mega.

Percayalah, ada ketika kita perlu mencintai masa dan ruang terlebih dahulu. Masa saya akan sampai. Ruang saya akan terbuka. Saat itu, saya menemukan waktu saya (dia).